Browsing category

Artikel

© Henry Cartier Bresson
Artikel, Street photography,

Belajar Komposisi Golden Mean Dari Henry Cartier Bresson

Henry Cartier Bresson adalah seorang fotografer asal Prancis yang telah diakui menjadi bapak jurnalisme foto modern. Dia adalah pengadopsi awal 35 mm format dan master candid photography. Ia membantu mengembangkan “Street Photography” atau “real life reportage” yang telah banyak mempengaruhi generasi fotografer setelahnya.

Henry Cartier Bresson

Henry Cartier Bresson

Geometri & Komposisi

Fokus utama dari karya Henry Cartier Bresson adalah geometri, itu adalah hal yang utama dan terpenting baginya.
Jika kita amati dengan seksama karya-karya beliau selalu berdasar pada Golden Mean dan Golden Proportion.

Golden mean juga dikenal dengan golden section adalah sebuah panduan komposisi yang didasarkan pada perhitungan matematika yang unik. Panduan komposisi ini pertama kali didokumentasikan oleh seniman yunani kuno dan sampai saat ini masih digunakan meskipun popularitasnya agak tertutupi oleh panduan komposisi rule of third. Prinsipnya panduan kompoisi ini hampir sama dengan rule of third namun titik interesnya lebih sempit sekitar 5% kearah tengah. Pada teorinya golden mean ini bisa digunakan pada semua scene foto termasuk fotografi jalanan, tapi pada prakteknya lebih mudah diaplikasikan pada foto portrait formal/klasik. Selain itu, golden mean bertujuan untuk menciptakan sebuah foto visual yang menarik, yakni sesuatu yang dapat menangkap perhatian orang dan menceritakan kisah di balik foto itu. Trik dari fotografer adalah untuk mengatur unsur-unsur untuk memungkinkan foto tersebut untuk menceritakan kisah yang ingin diberitahu. Memang benar bahwa sebuah foto bernilai seribu kata dan fotografer adalah orang-orang yang menulis mereka.

Dengan Mempelajari karya foto Henry Cartier Bresson, kami semakin menyadari bahwa semua yang akan di foto oleh beliau memiliki  irama dan proporsi yang tinggi.

Untuk menjelaskan lebih lanjut, kami akan menunjukkan beberapa fotonya dengan menambahkan layer
Golden Mean pada foto Henry Cartier Bresson untuk memberi  gambaran yang lebih baik tentang bagaimana dia selalu mengaplikasikan Golden Mean pada karya-karyanya.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Pada gambar di atas, Anda akan melihat bagaimana subjek dan geometri lingkungan dikomposisikan pada foto tersebut. Henri sering mengatakan “you must sense it, quick!.”

Keseluruhan gagasan tentang Golden Proportion didasarkan pada kenyataan bahwa mata Anda
harus mengalir melalui foto. Ini adalah tindakan bawah sadar, bahwa perlu banyak latihan dan jam terbang agar mata kita terbiasa mengkomposisikan sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan.

Segala sesuatu tidak kekal, tidak pernah abadi, dalam perubahan konstan.
– Henry Cartier Bresson –
© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

“Kombinasikan gerak subjek dan kesenangan komposisi”
“Cobalah untuk mengambil gambar yang mengkonkret segalanya dan memiliki hubungan bentuk yang sangat kuat.”

Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Perhatikan foto-foto di atas mata anda akan digiring dari satu point utama ke point yang lain. Sekilas, ini bisa dilihat sebagai foto yang crowded dengan berbagi element dan subject, tapi tanpa anda sadari mata anda akan tergiring dan mengalir begitu saja ketika melihat foto tersebut.

Satu hal yang sangat penting untuk di ingat adalah titik fokus foto Anda tidak selalu harus menjadi dead center.
Dengan demikian, Anda menciptakan simetri yang sering membayangi sisa komposisi yang lain dalam foto anda. Asimetri menciptakan dinamika dan memungkinkan viewers melihat konteks dari suatu foto.

Sama halnya saat anda mengetik di keyboard, Anda harus merasakan di mana huruf-hurufnya untuk membuat kata / frase / kalimat. Begitu juga dengan komposisi, Anda harus merasakannya dan terkadang perlu untuk sedikit menunggu untuk menentukan komposisi yang tepat sebelum menekan tombol shutter.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

 

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Citra yang tersusun rapi tidak akan banyak jika tidak ada cerita bagus di belakangnya Setiap kali saya menemukan foto Henry Cartier Bresson, Kami langsung terpikat dengan mata seismiknya. Dia tidak hanya bisa menangkap komposisi hebat tapi juga membangkitkan momen kuat dalam sepersekian detik. Tujuan sebuah foto adalah untuk membangkitkan perasaan, menangkap sejenak dan menceritakan sesuatu. Pepatah mengatakan “gambar bernilai 1000 kata.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

 

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Ada kegembiraan besar dalam seni fotografi jalanan. Komposisi runtuh menjadi satu tangkapan tunggal. Semua iindera Anda langsung mengajukan pertanyaan besar. Ini
tempat di mana pemahaman Anda tentang geometri, ringan, dan bahasa tubuh akhirnya ditantang.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Bila Anda mengamati reaksi orang-orang di lingkungan Anda, Maka Anda akan selalu menemukan “Determining Moment”. Henri biasa mengatakan bahwa pandangan pertama sangat penting. Pandangan pertama menentukan apakah penangkapan Anda akan bagus atau tidak.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Selalu ada moment berupa gerakan tubuh subject yang lebih menarik dari yang lain, entah itu sebuah bayangan, langkah kaki atau Silhouette. Fotografi tidak terlalu banyak memakan otak, yang paling dibutuhkan adalah kepekaan. Sebuah kamera hanyalah perpanjangan mata Anda. Sayangnya, kepekaan terhadap moment sulit untuk dijelaskan, Anda harus merasakannya dengan segenap indra Anda sekaligus.

Siapa saja bisa mendapatkan 10 foto bagus dalam hidup mereka, tapi konsisten untuk tetap mendapatkan foto yang bagus berulang-ulang itulah yang menjadi rahasia sebenarnya.

 

 

 

Refrensi :

Wikipedia.com – Golden Mean

Duapfatografi – Golden Mean

 

 

© dinprasetyo
Artikel,

Literasi Visual

Visual literacy / Literasi Visual adalah kemampuan untuk menginterpretasi dan memberi makna dari sebuah informasi yang berbentuk gambar atau visual. Visual literacy hadir dari ide bahwasanya sebuah gambar bisa ‘dibaca’ dan arti bisa dikomunikasikan dari proses membaca.

Istilah visual literacy dikenalkan oleh John Debes, co-founder dari International Visual Literacy Association. pada tahun 1969. Pada dasarnya literasi visual berusaha menjelaskan bagaimana manusia melihat objek atau benda lalu menginterpretasi dan apa yang dipelajari dari pembacaan itu.

Dalam proses berkarya, paling tidak ada tiga pihak yang terlibat. Pembuat karya, Karya itu sendiri dan penikmat atau pembaca. Pembuat karya, dalam hal ini, fotografer memiliki sebuah ide, sebuah konsep mengenai sesuatu. Misal, ide tentang seorang ibu yang memikirkan masa depan anak-anaknya di mana mereka hidup dalam kemiskinan akibat Depresi Besar.

 

Dorothea Lange, Migrant Mother,

Dorothea Lange, Migrant Mother, 1936

 

Ide itu lalu dituangkan dalam sebuah foto yang lalu ‘dibaca’ oleh pembaca. Pembaca menginterpretasi pesan itu layaknya membaca artikel Koran lalu terbaca pulalah apa yang ingin disampaikan fotografer mengenai peristiwa yang dilihatnya dan ide yang ada dalam pikiranya. Pembaca (dalam hal ini pemerintah) lalu bereaksi, misalnya, dengan mengirimkan bantuan berupa 20.000 pon makanan ke perkampungan tempat ibu itu. Pembaca lain (John Steinbeck), ada yang terinspirasi dan membuat novel berjudul ‘The Grapes of Wrath’ .

Ketiga elemen ini tak bisa dipisahkan. Sang fotografer membuat karya, viewer melihat dan memaknai fotonya. Tapi, bagaimana, sebenarnya proses pemaknaan yang terjadi antara pembuat karya-karya-pembaca?

Bagaimana pembaca memaknai sebuah karya? Lalu bagaimana fotografer mempelajari proses pemaknaan tersebut untuk lalu menggunakannya dalam membuat foto, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat dibaca sesuai yang diinginkan oleh fotografer?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin coba dipahami oleh visual literasi. Bagaimana mata manusia membentuk sebuah kisah dari foto atau teks visual lain yang dia lihat?

Visual literacy, atau literasi visual, bukanlah ilmu yang baku dan sudah mapan. Tidak seperti ’saudaranya’ ‘literasi aksara’ yang sudah dimapankan dengan salah satunya ilmu bahasa atau linguistic. Literasi visual cenderung masih baru. Pembahasannya tersebar dalam berbagai macam dispilin ilmu, seperti ilmu komunikasi, filosofi, sosiologi, ilmu media massa bahkan ilmu psikologi, antroplogi dan sejarah seni dan lain-lain juga membahas problematika pembentukan pemaknaan teks visual tersebut.

 

© dinprasetyo
Artikel, Sharing,

Media Sosial Media Berkarya

Media sosial secara garis besar adalah media daring untuk saling terhubung dan berbagi informasi di dunia maya (internet). Menurut McGraw Hill Dictionary, Media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual.

Dimulainya Era Sosial Media

Sejak lahirnya facebook pada tahun 2004, Mulailah babak baru dari sejarah teknologi manusia abad 21. Dimana saat itu masyarakat mulai berbondong-bondong untuk membuat akun media sosial di facebook untuk saling terhubung satu sama lain, meskipun hanya sekedar memiliki dan belum dapat memanfaatkan dengan baik.

Sebenarnya sebelum facebook sudah banyak sosial media yang lahir dimulai pada tahun 1997 sampai tahun 1999 munculah sosial media pertama yaitu Sixdegree.com dan Classmates.com. Tak hanya itu, di tahun tersebut muncul juga situs untuk membuat blog pribadi, yaitu Blogger. situs ini menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri. sehingga pengguna dari Blogger ini bisa memuat hal tentang apapun.

Pada tahun 2002 Friendster menjadi sosial media yang sangat booming dan kehadirannya sempat menjadi fenomenal.

Tetapi pada tahun 1997-2002 media sosial masih belum dapat dirasakan dampaknya karena masih sedikit pengguna karena faktor alat akses yang masih begitu mahal seperti PDA, Komputer, dan Laptop.

Berbeda dengan facebook, karena kelahiran facebook di ikuti lahirnya benda canggih yang ada di genggaman orang-orang saat ini yang disebut ponsel pintar (smartphone),  seperti smartphone Blackberry, Iphone, dan Android.

Dengan lahirnya smartphone mulailah peningkatan yang nyata dari penggunaan internet di dunia. Dan semakin banyaknya perusahaan yang mengembangkan smartphone dengan harga yang relatif terjangkau. Sehingga ini menjadi kesempatan yang tepat untuk para pengembang media sosial unjuk gigi. Akhirnya mulailah bermunculan berbagai media sosial menyusul facebook  dengan berbagai karakter dan kelebihan masing-masing, seperti Instagram, LinkedIn, MySpace, Twitter, Wiser, Google+, Line, dan lain sebagainya.

Saya dan Media Sosial

Saya pribadi mulai menggunakan media sosial sekitar tahun 2009. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA. Karena penasaran banyak teman-teman SMA saya saat itu bercerita tentang media sosila dan bertukar informasi di media sosial, saya mulai membuat akun media sosial pertama saya di friendster. Suatu pengalaman baru dalam hidup saya dimana ternyata suatu hiburan tersendiri bermain di friendster bertemu dan berkenalan dengan teman baru meski terpaut jarak yang begitu jauh tetapi saya dapat berhubungan melalui media tersebut. Setiap pulang sekolah akhirnya saya mulai sering mampir ke warnet (Warung Internet) untuk bermain friendster meski hanya sekedar update status dan mengubah tampilan profile di friendster. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena saya mulai mendengar tentang facebook yang saat itu mulai booming dan akhirnya saya beranjak dari frindster ke facebook.

Saya akui facebook memliki daya tarik tersendiri. Meski dengan menggunakan facebook saya tidak dapat mengubah tamplan profil saya seperti di friendster tetapi saya merasa lebih nyaman di facebook karena tampilan pengguna (user interface) yang jauh lebih minimalis di banding frindster saat itu.

by dinprasetyo

© dinprasetyo

Dari akun facebook saya mulai penasaran dengan media sosial  lain seperti twitter. Akhirmya saya mulai menggunakan twitter juga. Tapi saya belum dapat memanfaatkan media sosial secara penuh karena saat saya masih SMA saya belum mempunyai ponsel yang mendukung akses internet, alih-alih smartphone, saya hanya memiliki ponsel nokia 3315 saat itu. Sehingga untuk menggunakan sosial media saya harus pergi ke warnet atau meminjam smartphone teman saya.

Akhirnya ketika saya lulus SMA, akhir tahun 2011 saya bisa membeli smartphone pertama saya. Mulailah saya bermain sosial media setiap hari. Menambahkan teman sebanyak mungkin, baik teman dari indonesia maupun luar negeri.

Semakin sering saya menggunakan media sosial semakin memunculkan pertanyaan besar dalam benak saya. Karena semakin kesini semakin aneh, semakin banyak keluhan-keluhan yang bermunculan di timeline saya kiriman dari teman-teman saya. Banyak juga propaganda, iklan, bahkan scammer, hoax, hingga informasi-informasi tak layak yang memperkosa pengguna untuk mengkonsumsi informasi tersebut. Itu yang saya fikirkan saat itu.

Hingga sempat saya memutuskan untuk menghapus akun facebook saya sekitar tahun 2012. kemudian pada tahun 2013-2014 saya mulai menggunakan media sosial kembali. karena saya sadar perkembangan teknologi tidak dapat di hindari karena semakin hari justru semakin berkembang pesat dan menjadi suatu kebutuhan untuk saling terhubung dan mengakses informasi.

Dan pada dasarnya sosial media memiliki dua mata sperti mata pisau. Tergantung penggunanya, untuk dimanfaatkan dalam hal kebaikan yang bermanfaat atau keburukan yang merugikan. Meskipun penemuan jati diri dalam menggunakan media sosial berlangsung lama bagi saya.

Dan pada dasarnya sosial media memiliki dua mata seperti mata pisau. Tergantung penggunanya, untuk dimanfaatkan dalam hal kebaikan yang bermanfaat atau keburukan yang merugikan.

Saya merenung dan memikirkan apa yang bisa saya manfaatkan dan saya bagikan di sosial media yang sekiranya itu bermanfaat bagi saya dan orang-orang yang terhubung dengan saya. Saya sadar saya tidak memilik paras yang tampan sehingga tidak dapat bersosial media seperti para artis media sosial. Saya juga tidak ahli dalam berpamer kemewahan karena hidup saya tidak lah mewah dan menurut saya kurang bijak juga jika saya berpamer kemewahan melalui sosial media karena itu sangat berbahaya, karena dapat menumbuhkan kecemburuan bagi pengguna internet, Dan kecemburan itu bisa mengakibatkan tindakan-tindakan menyimpang karena ingin merasakan kemewahan dengan cara instan.

Dalam perenungan itu akhirnya saya menemukan jawaban dari kerisauan saya dalam bermedia sosial yaitu “karya”. Memanfaatkan media sosial untuk ajang berbagi karya, dan menggali potensi yang ada dalam diri. Mulailah saya memikirkan karya apa yang bisa saya buat. Saya memulai dari apa yang saya sukai. Saya terus menggali dan ingat dulu sewaktu SMA say suka dengan musik, membentuk band dan ikut festival band di daerah. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat lagu. Berbulan-bulan saya mempelajari aplikasi untuk membuat lagu secara otodidak akhirnya sekitar tahun 2014 saya berhasil membuat satu lagu EDM dengan aplikasi frutyloop, yang kemudian saya unggah di soundcloud.

Karena keterbatasan alat, saya hanya memiliki komputer pentium 4 dengan ram 512 mb, yang saya dapat dari saudara saya. Sehingga saya rasa itu sulit untuk saya saat itu dengan kondisi yang serba terbatas. Akhir tahun 2015 saya baru menemukan jawaban yang menurut saya itu cocok untuk saya yaitu photography. Berawal dari saudara saya Iwan Resdianto, yang sering sibuk sendiri ketika liburan dengan saya untuk mendapatkan foto yang bagus yang selalu dia unggah di instagram, membuat saya mulai ikut mencoba menggunakan instagram.

Hanya foto-foto liburan dengan editing berlebihan dengan warna yang ke kuning-kuningan yang saya unggah di instagram. Sering mengikuti akun-akun di instagram dengan karya foto yang lebih bagus dari foto saya adalah pilihan saya untuk belajar meningkatkan karya foto saya, saat itu. Sehingga bertemulah saya dengan akun instagram Ilham setyawan. Dia adalah teman dari Iwan dan menurut saya saat itu karya-karya ilham bagus sekali. Sehingga saya menelusuri tentang siapa sebenarnya ilham setiawan. Dari informasi yang saya dapat dari Iwan, ilham bergabung di suatu komunitas fotografi berbasis instagram di semarang. Hal itu terdengar sangat bagus dan cerdas bagi saya. Dimana mencari kelompok yang memiliki ideologi yang sama, hoby yang sama untuk belajar, berbagi ilmu, dan pengalaman.

by dinprasetyo

© dinprasetyo

Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di komunitas yang sama dengan komunitas ilham. Dari sini mulailah perjalanan saya di dunia fotografi. Dan semenjak saya terjun untuk memilih berhobi di dunia fotografi menjadikan saya bersemangat berbagi karya di media sosial.

Dan semakin hari semakin banyak saya bergabung dengan komunitas-komunitas fotografi berbasis online, sehingga bertemulah saya dengan orang-orang hebat seperti Udatommo, Chris Tuarissa,  yang membimbing saya hingga karya-karya saya jauh lebih baik daripada awal-awal saya menggunakan instagram.

Semakin banyak teman sehobi yang saya temui semakin ilmu saya bertambah dan memantapkan saya untuk terus berkarya dan berkarya. Meskipun belum ada prestasi yang tampak dari karya fotografi saya, tetapi mengahasilkan foto yang jauh lebih baik dari foto terdahulu dan membagikan karya di sosial media dengan konsisten sudah termasuk hal yang harus saya syukuri dari hidup saya. Karena setidaknya kita telah membantu menebar benih-benih kreatifitas di media sosial, bukan hanya sekedar mengadu domba, dan menyebarkan konten negatif di media sosial.

 

Kesimpulan

Teknologi semakin hari semakin berkembang. Internet menjadi kebutuhan yang tak dapat di pungkiri. Hal itu mendukung peningkatan pengguna sosial media yang semakin bertambah. Dengan memanfaatkan media sosial sebagai media untuk berkarya dan menggali potensi dalam diri memungkinkan untuk menjadikan media sosial di penuhi dengan orang-orang kreatif dengan berbagai keahlian.

 

 

 

 

 

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 05
Artikel, Sharing,

Menata Ulang Idealisme

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou)
All photos in this article copyrighted by Suryo Brahmantyo

Jujur saja, dulunya saya termasuk ke dalam golongan orang yang malas bekerja. Dalam hal ini, bekerja saya artikan sebagai aktivitas memenuhi kebutuhan lahir. Bertahun-tahun menjalani kebanalan dunia korporasi nyaris tanpa mendapatkan kepuasan batin. Selalu ada saja hal-hal yang sengaja saya hadirkan untuk dibanding-bandingkan.

Guna menyeimbangkan, saya menggeluti fotografi sebagai hobi, sebuah aktivitas yang dilakukan manusia untuk tujuan kesenangan. Bermain-main layaknya anak kecil yang tidak mengenal tagihan. Di sini saya menemukan sebuah manifestasi yang sebelumnya belum saya kenal. Dua aktivitas pemenuhan kebutuhan lahir dan batin ini saya jalani berbarengan selama beberapa saat. Walaupun antara profesi dan hobi, masing-masing berseberangan bagai utara dan selatan, saya berusaha memegang kendali atas keduanya dengan berdiri di tengah-tengah.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 04

© Suryo Brahmantyo

 

Lama-kelamaan, saya lelah juga. Saya tidak mampu untuk memecah konsentrasi atas dua kutub kebutuhan ini. Efeknya, menoleh ke kiri dan kanan secara simultan membuat saya tidak fokus melihat ke depan. Sempat terpikir untuk meletakkan status pekerja kantoran, dan fokus mengubah hobi menjadi profesi, namun faktanya karya saya hanya bisa dinikmati untuk diri sendiri. Karena saya dianggap terlalu idealis dalam berkarya.

Idealis, idealisme. Kata-kata itu terus mengganggu. Hingga tidak bisa menghitung berapa cangkir kopi yang saya habiskan selama memutar-putar kepala. Hingga akhirnya saya memilih jalan keluar untuk menggunakan kata kunci ‘idealisme’ sebagai konsep dasar dalam membuat karya foto. Makna idealisme yang selama ini beredar di sekitar, menurut saya, lebih dekat ke egoisme. Cenderung subjektif dan kaku.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 06

© Suryo Brahmantyo

 

Saya memaknai idealisme sebagai bentukan dari kata dasar ideal. Sedangkan idealisme, kembali menurut saya, adalah sebuah usaha untuk mencapai sesuatu yang ideal. Anda mungkin akan mencibir, mana ada di dunia ini yang benar-benar ideal. Saya sepakat. Mungkin saja Anda benar. But the name also effort. Namanya juga usaha. Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya. Yakin dulu saja. Lagi pula, ideal itu juga subjektif. Masih mengandung unsur ‘menurut teori apa’ atau ‘menurut siapa’.

Lalu apa ideal sendiri itu apa? Baiklah, sebelumnya saya harus berterima kasih kepada bagian diri saya yang lainnya karena telah mempertanyakan itu. Ideal merupakan hasil dari kesepakatan. Dalam hal bekerja, kesepakatan antara produsen dan konsumen demi tercapainya win-win solution. Saya senang, Anda juga senang. Ya, kurang lebih demikian makna idealisme bagi saya. Untuk mewujudkannya memang tidak akan semudah membalikkan tempe dalam wajan. Tapi saya percaya, solusi bersama akan jauh lebih mudah diraih ketika masing-masing pihak punya inisiatif untuk berkompromi.

Dengan membawa idealisme sebagai modal, saya membentuk sebuah usaha untuk merekrut tim, berkompromi dan berkarya bersama untuk mencapai efektivitas komunikasi dengan khalayak banyak.

Bintaro,
Mei 2016

 

Suryo Brahmantyo

Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook

Suryo Brahmantyo - siboglou 01
Artikel, Sharing,

Kritik Vs Apresiasi

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou)
All photos in this article copyrighted by Suryo Brahmantyo

 

Sebuah kutipan dari dosen Tomi Saputra (Udatommo) yang saya kutip dari tulisannya di blog, beliau udatommo.com berkata seperti ini:

Ketika kamu berkarya tidak perlu selalu mendengar kritik atau masukan dari orang lain. Belum tentu kritik itu benar. Bisa saja orang tersebut hanya iri dengan bagusnya karya kamu, atau bisa juga karena mereka tidak mengerti tentang karya kamu.

Kemudian Uda melanjutkan :

Tidak jarang kritikan yang masuk kepada anda bernada mendikte. Karya anda adalah diri anda sendiri, tidak ada orang lain yang mengenal karya tersebut kecuali anda sendiri.

Sejenak saya teringat ketika seorang teman bicara tentang budaya kritik di negeri ini. Ia bilang bahwa kritik cenderung dimaknai sebagai sebuah kecaman atau opini yang mengandung unsur ketidak sepakatan terhadap seseorang atau sesuatu. Berbeda dengan kritik yang diterapkan oleh orang Eropa. Kritik, bagi mereka merupakan proses pemahaman terhadap sesuatu (misalnya; film dan musik). Mungkin saja benar bahwa ada perbedaan makna ‘kritik’ antara di sini dan di sana. Jika menilik pada penjelasannya, saya punya kosakata yang lebih pas; apresiasi.

Namun sepertinya apresiasi juga belum menjadi budaya populer di Indonesia. Di beberapa belahan lain di negeri ini, ada yang harus tumbuh dan berkembang dengan terpaan badai kritik yang cenderung mengecam. Ini bukan perkara salah atau benar, hanya saja orang seperti Andrew Neiman tidak benar-benar nyata. Yang menyedihkan jika mendapati seorang teman memutar haluan, memutuskan untuk drop out dari sebuah institusi pendidikan hanya karena dianggap tidak becus berkarya. Hal yang penting untuk disoroti di sini adalah soal alokasi waktu; berapa lama yang telah terbuang dan berapa lama yang dibutuhkan untuk belajar hal baru.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 03

© Suryo Brahmantyo

 

Melompat ke waktu lain. Di sebuah Minggu pagi, ketika itu saya berada di tengah sebuah diskusi fotografi. Dengan memanfaatkan lokasi di sebuah kedai makan, beberapa orang bergilir mempresentasikan karya hasil perburuan masing-masing beberapa jam sebelumnya. Dan pada bagian akhir, memberikan kesempatan kepada audiens untuk berkomentar.

Pada bagian akhir tersebut membuat saya kurang nyaman karena kekhawatiran saya terbukti benar. Sebuah forum yang tadinya saya harapkan menjadi wadah apresiasi justru menjadi ajang penilaian layaknya kontes adu bakat di televisi. Masukan-masukan yang disampaikan audiens cenderung sepihak. Kritik yang terlontarpun jamak bernada mendikte; memberikan rekomendasi untuk melakukan sesuatu seperti yang ia lakukan terhadap dirinya, terhadap karyanya — bahkan tanpa diminta.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 02

© Suryo Brahmantyo

 

Sekilas hal ini memang remeh-temeh. Kritik, dalam hal ini sama seperti lemak pada tubuh; tidak banyak yang memperhatikan keberadan dan fungsinya. Keduanya sama-sama dapat memberikan efek negatif jika berkekurangan dan berkelebihan. Dengan porsi dan kondisi yang tepat, kritik juga dapat memberikan energi tertentu. Apa yang dilakukan Terence Fletcher terhadap Andrew Neiman dapat menjadi contoh.

Setiap orang memiliki pandangan masing-masing, dan tentu saja caranya pun beragam. Bisa jadi kontras dengan yang biasa kita lakukan. Dengan melihat karya orang lain dari sudut pandang sendiri bukan saja menjadikan kita egois, tapi juga menumpulkan pikiran untuk merangsang pertanyaan-pertanyaan. Terjawab atau tidak, itu bukan yang terpenting, karena klimaksnya ada pada pertanyaan yang terlontar.

 

Suryo Brahmantyo

Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook

© dinprasetyo
Artikel, Street photography,

Apa Itu Street Photography ?

Ruang publik yang dimaksud di sini tidak terlepas dari “Jalanan” saja, tetapi dalam artian yg lebih luas, misalkan di cafe, mall, pasar, taman, dan sebagainya. Point of interest (subject) yg dimaksud di ruang publik tidak terlepas dari orang saja, melainkan hal-hal lain yg kerap berada di ruang publik, seperti peristiwa, benda-benda (element), cuaca, bayangan, pedesaan dan sebagainya.

 

Thomas Leuthard

Thomas Leuthard

Menurut Thomas Leuthard, “street photography hanyalah dokumentasi kehidupan di depan umum dengan cara yang jujur”.  Street photography menggunakan sebuah teknik dari ( straight photography atau pure photography# ) yang di dalamnya menunjukkan suatu visi atau tujuan yang murni dari suatu hal seperti cerminan dari kondisi masyarakat.

Street Photography bisa sebagai foto dokumentasi, foto seri, ataupun foto tunggal. Kalau berbicara sejarah, mungkin sulit kapan Street Photography di temukan, tetapi Street Photography mulai populer ketika kamera dengan film 35mm ditemukan (kira-kira pada tahun 1930-an), kamera yg kecil, ringan, cepat, dan mudah dibawa kemana-mana. Sejak itulah Street Photography mulai berkembang dan populer.

 

Henry Cartier Bresson

Henry Cartier Bresson

Salah satu fotografer yang mempunyai peranan penting dalam dunia street fotografi salah satunya Henri Cartier Bresson. Dia adalah salah satu master of photographer dari Ferancis yang terkenal dari dengan karya-karya documenternya,liputan kehidupan nyata, foto-foto yg kental dengan decisive moment (Kejadian yg kebetulan) dan sebagainya.

Beberapa kriteria Street Photography:

1. Foto di ruang publik (tempat umum)
2. Keadaan/kejadian yang tidak dibuat-buat, melainkan spontanitas, tetapi bisa jadi kedaan yang di harapkan, ataupun keadaan/kejadian yang kebetulan (decisive moment).
3. Tema yang dibahas merupakan kehidupan sehari-hari yang terjadi di ruang publik, apakah itu perilaku orang, lingkungan, keadaan, cuaca, dan lain sebagainya.
4. Membuat rangkaian cerita dari aktifitas sehari-hari atau membuat cerita dengan memanfaatkan aktifitas sehari-hari, seperti foto seri, foto liputan (dokumentasi).
5. Orang yang dipotret tidak ditampilkan sebagai seorang individu, melainkan sebagai tokoh anonim dari situasi “jalanan” secara umumnya.

Kenapa kita perlu memahami karakteristik tersebut? karena banyak sekali yang bertanya kepada saya tentang definisi dan perbedaan fotografi jalanan dan human interest bahkan sampai travel dan portrait fotografi. sehingga disini saya akan sedikit memaparkan perbedaan antara street fotografi dengan human interest.

Beda street photography dengan portrait : Portrait photography berusaha untuk mengeluarkan karakter/sifat subjek foto, biasanya dipose atau dipengaruhi oleh fotografer dan backgroundnya diatur sedemikian rupa.

Beda street photography dengan human interest : Human interest photography bertujuan untuk menimbulkan empati dari yang melihat foto, misalnya merasa kasihan, merasa ingin membantu, atau ikut senang, sedangkan tujuan street hanya untuk menangkap momen secara spontan yang lebih mengedepankan nilai artistik dan point of interest.

Beda street photography dengan dokumentasi liputan : Tujuan dokumentasi / fotojurnalis adalah memotret hal-hal yang mengandung unsur berita/feature dan biasanya ditayangkan di media cetak/elektronik. Subjek dokumentasi biasanya sudah ditentukan. Fotografer biasanya sudah memiliki daftar apa saja yang akan difoto. Foto dokumentasi tidak se-spontan street photography.

Refrensi:
https: // desaindigital.com/2010/11/16/.mengenal-street-photography/
https: //id.wikipedia.org/wiki/Fotografi_jalanan
http: //fotografi.upi.edu/home/6-keahlian-khusus/street-photography
http: //tipsfotografi.net/belajar-fotografi-memotret-jalanan-atau-street-photography.html

Instagram has returned invalid data.
error: Content is protected !!