Browsing category

Sharing

© dinprasetyo
Artikel, Sharing,

Media Sosial Media Berkarya

Media sosial secara garis besar adalah media daring untuk saling terhubung dan berbagi informasi di dunia maya (internet). Menurut McGraw Hill Dictionary, Media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual.

Dimulainya Era Sosial Media

Sejak lahirnya facebook pada tahun 2004, Mulailah babak baru dari sejarah teknologi manusia abad 21. Dimana saat itu masyarakat mulai berbondong-bondong untuk membuat akun media sosial di facebook untuk saling terhubung satu sama lain, meskipun hanya sekedar memiliki dan belum dapat memanfaatkan dengan baik.

Sebenarnya sebelum facebook sudah banyak sosial media yang lahir dimulai pada tahun 1997 sampai tahun 1999 munculah sosial media pertama yaitu Sixdegree.com dan Classmates.com. Tak hanya itu, di tahun tersebut muncul juga situs untuk membuat blog pribadi, yaitu Blogger. situs ini menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri. sehingga pengguna dari Blogger ini bisa memuat hal tentang apapun.

Pada tahun 2002 Friendster menjadi sosial media yang sangat booming dan kehadirannya sempat menjadi fenomenal.

Tetapi pada tahun 1997-2002 media sosial masih belum dapat dirasakan dampaknya karena masih sedikit pengguna karena faktor alat akses yang masih begitu mahal seperti PDA, Komputer, dan Laptop.

Berbeda dengan facebook, karena kelahiran facebook di ikuti lahirnya benda canggih yang ada di genggaman orang-orang saat ini yang disebut ponsel pintar (smartphone),  seperti smartphone Blackberry, Iphone, dan Android.

Dengan lahirnya smartphone mulailah peningkatan yang nyata dari penggunaan internet di dunia. Dan semakin banyaknya perusahaan yang mengembangkan smartphone dengan harga yang relatif terjangkau. Sehingga ini menjadi kesempatan yang tepat untuk para pengembang media sosial unjuk gigi. Akhirnya mulailah bermunculan berbagai media sosial menyusul facebook  dengan berbagai karakter dan kelebihan masing-masing, seperti Instagram, LinkedIn, MySpace, Twitter, Wiser, Google+, Line, dan lain sebagainya.

Saya dan Media Sosial

Saya pribadi mulai menggunakan media sosial sekitar tahun 2009. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA. Karena penasaran banyak teman-teman SMA saya saat itu bercerita tentang media sosila dan bertukar informasi di media sosial, saya mulai membuat akun media sosial pertama saya di friendster. Suatu pengalaman baru dalam hidup saya dimana ternyata suatu hiburan tersendiri bermain di friendster bertemu dan berkenalan dengan teman baru meski terpaut jarak yang begitu jauh tetapi saya dapat berhubungan melalui media tersebut. Setiap pulang sekolah akhirnya saya mulai sering mampir ke warnet (Warung Internet) untuk bermain friendster meski hanya sekedar update status dan mengubah tampilan profile di friendster. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena saya mulai mendengar tentang facebook yang saat itu mulai booming dan akhirnya saya beranjak dari frindster ke facebook.

Saya akui facebook memliki daya tarik tersendiri. Meski dengan menggunakan facebook saya tidak dapat mengubah tamplan profil saya seperti di friendster tetapi saya merasa lebih nyaman di facebook karena tampilan pengguna (user interface) yang jauh lebih minimalis di banding frindster saat itu.

by dinprasetyo

© dinprasetyo

Dari akun facebook saya mulai penasaran dengan media sosial  lain seperti twitter. Akhirmya saya mulai menggunakan twitter juga. Tapi saya belum dapat memanfaatkan media sosial secara penuh karena saat saya masih SMA saya belum mempunyai ponsel yang mendukung akses internet, alih-alih smartphone, saya hanya memiliki ponsel nokia 3315 saat itu. Sehingga untuk menggunakan sosial media saya harus pergi ke warnet atau meminjam smartphone teman saya.

Akhirnya ketika saya lulus SMA, akhir tahun 2011 saya bisa membeli smartphone pertama saya. Mulailah saya bermain sosial media setiap hari. Menambahkan teman sebanyak mungkin, baik teman dari indonesia maupun luar negeri.

Semakin sering saya menggunakan media sosial semakin memunculkan pertanyaan besar dalam benak saya. Karena semakin kesini semakin aneh, semakin banyak keluhan-keluhan yang bermunculan di timeline saya kiriman dari teman-teman saya. Banyak juga propaganda, iklan, bahkan scammer, hoax, hingga informasi-informasi tak layak yang memperkosa pengguna untuk mengkonsumsi informasi tersebut. Itu yang saya fikirkan saat itu.

Hingga sempat saya memutuskan untuk menghapus akun facebook saya sekitar tahun 2012. kemudian pada tahun 2013-2014 saya mulai menggunakan media sosial kembali. karena saya sadar perkembangan teknologi tidak dapat di hindari karena semakin hari justru semakin berkembang pesat dan menjadi suatu kebutuhan untuk saling terhubung dan mengakses informasi.

Dan pada dasarnya sosial media memiliki dua mata sperti mata pisau. Tergantung penggunanya, untuk dimanfaatkan dalam hal kebaikan yang bermanfaat atau keburukan yang merugikan. Meskipun penemuan jati diri dalam menggunakan media sosial berlangsung lama bagi saya.

Dan pada dasarnya sosial media memiliki dua mata seperti mata pisau. Tergantung penggunanya, untuk dimanfaatkan dalam hal kebaikan yang bermanfaat atau keburukan yang merugikan.

Saya merenung dan memikirkan apa yang bisa saya manfaatkan dan saya bagikan di sosial media yang sekiranya itu bermanfaat bagi saya dan orang-orang yang terhubung dengan saya. Saya sadar saya tidak memilik paras yang tampan sehingga tidak dapat bersosial media seperti para artis media sosial. Saya juga tidak ahli dalam berpamer kemewahan karena hidup saya tidak lah mewah dan menurut saya kurang bijak juga jika saya berpamer kemewahan melalui sosial media karena itu sangat berbahaya, karena dapat menumbuhkan kecemburuan bagi pengguna internet, Dan kecemburan itu bisa mengakibatkan tindakan-tindakan menyimpang karena ingin merasakan kemewahan dengan cara instan.

Dalam perenungan itu akhirnya saya menemukan jawaban dari kerisauan saya dalam bermedia sosial yaitu “karya”. Memanfaatkan media sosial untuk ajang berbagi karya, dan menggali potensi yang ada dalam diri. Mulailah saya memikirkan karya apa yang bisa saya buat. Saya memulai dari apa yang saya sukai. Saya terus menggali dan ingat dulu sewaktu SMA say suka dengan musik, membentuk band dan ikut festival band di daerah. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat lagu. Berbulan-bulan saya mempelajari aplikasi untuk membuat lagu secara otodidak akhirnya sekitar tahun 2014 saya berhasil membuat satu lagu EDM dengan aplikasi frutyloop, yang kemudian saya unggah di soundcloud.

Karena keterbatasan alat, saya hanya memiliki komputer pentium 4 dengan ram 512 mb, yang saya dapat dari saudara saya. Sehingga saya rasa itu sulit untuk saya saat itu dengan kondisi yang serba terbatas. Akhir tahun 2015 saya baru menemukan jawaban yang menurut saya itu cocok untuk saya yaitu photography. Berawal dari saudara saya Iwan Resdianto, yang sering sibuk sendiri ketika liburan dengan saya untuk mendapatkan foto yang bagus yang selalu dia unggah di instagram, membuat saya mulai ikut mencoba menggunakan instagram.

Hanya foto-foto liburan dengan editing berlebihan dengan warna yang ke kuning-kuningan yang saya unggah di instagram. Sering mengikuti akun-akun di instagram dengan karya foto yang lebih bagus dari foto saya adalah pilihan saya untuk belajar meningkatkan karya foto saya, saat itu. Sehingga bertemulah saya dengan akun instagram Ilham setyawan. Dia adalah teman dari Iwan dan menurut saya saat itu karya-karya ilham bagus sekali. Sehingga saya menelusuri tentang siapa sebenarnya ilham setiawan. Dari informasi yang saya dapat dari Iwan, ilham bergabung di suatu komunitas fotografi berbasis instagram di semarang. Hal itu terdengar sangat bagus dan cerdas bagi saya. Dimana mencari kelompok yang memiliki ideologi yang sama, hoby yang sama untuk belajar, berbagi ilmu, dan pengalaman.

by dinprasetyo

© dinprasetyo

Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di komunitas yang sama dengan komunitas ilham. Dari sini mulailah perjalanan saya di dunia fotografi. Dan semenjak saya terjun untuk memilih berhobi di dunia fotografi menjadikan saya bersemangat berbagi karya di media sosial.

Dan semakin hari semakin banyak saya bergabung dengan komunitas-komunitas fotografi berbasis online, sehingga bertemulah saya dengan orang-orang hebat seperti Udatommo, Chris Tuarissa,  yang membimbing saya hingga karya-karya saya jauh lebih baik daripada awal-awal saya menggunakan instagram.

Semakin banyak teman sehobi yang saya temui semakin ilmu saya bertambah dan memantapkan saya untuk terus berkarya dan berkarya. Meskipun belum ada prestasi yang tampak dari karya fotografi saya, tetapi mengahasilkan foto yang jauh lebih baik dari foto terdahulu dan membagikan karya di sosial media dengan konsisten sudah termasuk hal yang harus saya syukuri dari hidup saya. Karena setidaknya kita telah membantu menebar benih-benih kreatifitas di media sosial, bukan hanya sekedar mengadu domba, dan menyebarkan konten negatif di media sosial.

 

Kesimpulan

Teknologi semakin hari semakin berkembang. Internet menjadi kebutuhan yang tak dapat di pungkiri. Hal itu mendukung peningkatan pengguna sosial media yang semakin bertambah. Dengan memanfaatkan media sosial sebagai media untuk berkarya dan menggali potensi dalam diri memungkinkan untuk menjadikan media sosial di penuhi dengan orang-orang kreatif dengan berbagai keahlian.

 

 

 

 

 

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 05
Artikel, Sharing,

Menata Ulang Idealisme

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou)
All photos in this article copyrighted by Suryo Brahmantyo

Jujur saja, dulunya saya termasuk ke dalam golongan orang yang malas bekerja. Dalam hal ini, bekerja saya artikan sebagai aktivitas memenuhi kebutuhan lahir. Bertahun-tahun menjalani kebanalan dunia korporasi nyaris tanpa mendapatkan kepuasan batin. Selalu ada saja hal-hal yang sengaja saya hadirkan untuk dibanding-bandingkan.

Guna menyeimbangkan, saya menggeluti fotografi sebagai hobi, sebuah aktivitas yang dilakukan manusia untuk tujuan kesenangan. Bermain-main layaknya anak kecil yang tidak mengenal tagihan. Di sini saya menemukan sebuah manifestasi yang sebelumnya belum saya kenal. Dua aktivitas pemenuhan kebutuhan lahir dan batin ini saya jalani berbarengan selama beberapa saat. Walaupun antara profesi dan hobi, masing-masing berseberangan bagai utara dan selatan, saya berusaha memegang kendali atas keduanya dengan berdiri di tengah-tengah.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 04

© Suryo Brahmantyo

 

Lama-kelamaan, saya lelah juga. Saya tidak mampu untuk memecah konsentrasi atas dua kutub kebutuhan ini. Efeknya, menoleh ke kiri dan kanan secara simultan membuat saya tidak fokus melihat ke depan. Sempat terpikir untuk meletakkan status pekerja kantoran, dan fokus mengubah hobi menjadi profesi, namun faktanya karya saya hanya bisa dinikmati untuk diri sendiri. Karena saya dianggap terlalu idealis dalam berkarya.

Idealis, idealisme. Kata-kata itu terus mengganggu. Hingga tidak bisa menghitung berapa cangkir kopi yang saya habiskan selama memutar-putar kepala. Hingga akhirnya saya memilih jalan keluar untuk menggunakan kata kunci ‘idealisme’ sebagai konsep dasar dalam membuat karya foto. Makna idealisme yang selama ini beredar di sekitar, menurut saya, lebih dekat ke egoisme. Cenderung subjektif dan kaku.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 06

© Suryo Brahmantyo

 

Saya memaknai idealisme sebagai bentukan dari kata dasar ideal. Sedangkan idealisme, kembali menurut saya, adalah sebuah usaha untuk mencapai sesuatu yang ideal. Anda mungkin akan mencibir, mana ada di dunia ini yang benar-benar ideal. Saya sepakat. Mungkin saja Anda benar. But the name also effort. Namanya juga usaha. Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya. Yakin dulu saja. Lagi pula, ideal itu juga subjektif. Masih mengandung unsur ‘menurut teori apa’ atau ‘menurut siapa’.

Lalu apa ideal sendiri itu apa? Baiklah, sebelumnya saya harus berterima kasih kepada bagian diri saya yang lainnya karena telah mempertanyakan itu. Ideal merupakan hasil dari kesepakatan. Dalam hal bekerja, kesepakatan antara produsen dan konsumen demi tercapainya win-win solution. Saya senang, Anda juga senang. Ya, kurang lebih demikian makna idealisme bagi saya. Untuk mewujudkannya memang tidak akan semudah membalikkan tempe dalam wajan. Tapi saya percaya, solusi bersama akan jauh lebih mudah diraih ketika masing-masing pihak punya inisiatif untuk berkompromi.

Dengan membawa idealisme sebagai modal, saya membentuk sebuah usaha untuk merekrut tim, berkompromi dan berkarya bersama untuk mencapai efektivitas komunikasi dengan khalayak banyak.

Bintaro,
Mei 2016

 

Suryo Brahmantyo

Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook

Suryo Brahmantyo - siboglou 01
Artikel, Sharing,

Kritik Vs Apresiasi

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou)
All photos in this article copyrighted by Suryo Brahmantyo

 

Sebuah kutipan dari dosen Tomi Saputra (Udatommo) yang saya kutip dari tulisannya di blog, beliau udatommo.com berkata seperti ini:

Ketika kamu berkarya tidak perlu selalu mendengar kritik atau masukan dari orang lain. Belum tentu kritik itu benar. Bisa saja orang tersebut hanya iri dengan bagusnya karya kamu, atau bisa juga karena mereka tidak mengerti tentang karya kamu.

Kemudian Uda melanjutkan :

Tidak jarang kritikan yang masuk kepada anda bernada mendikte. Karya anda adalah diri anda sendiri, tidak ada orang lain yang mengenal karya tersebut kecuali anda sendiri.

Sejenak saya teringat ketika seorang teman bicara tentang budaya kritik di negeri ini. Ia bilang bahwa kritik cenderung dimaknai sebagai sebuah kecaman atau opini yang mengandung unsur ketidak sepakatan terhadap seseorang atau sesuatu. Berbeda dengan kritik yang diterapkan oleh orang Eropa. Kritik, bagi mereka merupakan proses pemahaman terhadap sesuatu (misalnya; film dan musik). Mungkin saja benar bahwa ada perbedaan makna ‘kritik’ antara di sini dan di sana. Jika menilik pada penjelasannya, saya punya kosakata yang lebih pas; apresiasi.

Namun sepertinya apresiasi juga belum menjadi budaya populer di Indonesia. Di beberapa belahan lain di negeri ini, ada yang harus tumbuh dan berkembang dengan terpaan badai kritik yang cenderung mengecam. Ini bukan perkara salah atau benar, hanya saja orang seperti Andrew Neiman tidak benar-benar nyata. Yang menyedihkan jika mendapati seorang teman memutar haluan, memutuskan untuk drop out dari sebuah institusi pendidikan hanya karena dianggap tidak becus berkarya. Hal yang penting untuk disoroti di sini adalah soal alokasi waktu; berapa lama yang telah terbuang dan berapa lama yang dibutuhkan untuk belajar hal baru.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 03

© Suryo Brahmantyo

 

Melompat ke waktu lain. Di sebuah Minggu pagi, ketika itu saya berada di tengah sebuah diskusi fotografi. Dengan memanfaatkan lokasi di sebuah kedai makan, beberapa orang bergilir mempresentasikan karya hasil perburuan masing-masing beberapa jam sebelumnya. Dan pada bagian akhir, memberikan kesempatan kepada audiens untuk berkomentar.

Pada bagian akhir tersebut membuat saya kurang nyaman karena kekhawatiran saya terbukti benar. Sebuah forum yang tadinya saya harapkan menjadi wadah apresiasi justru menjadi ajang penilaian layaknya kontes adu bakat di televisi. Masukan-masukan yang disampaikan audiens cenderung sepihak. Kritik yang terlontarpun jamak bernada mendikte; memberikan rekomendasi untuk melakukan sesuatu seperti yang ia lakukan terhadap dirinya, terhadap karyanya — bahkan tanpa diminta.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 02

© Suryo Brahmantyo

 

Sekilas hal ini memang remeh-temeh. Kritik, dalam hal ini sama seperti lemak pada tubuh; tidak banyak yang memperhatikan keberadan dan fungsinya. Keduanya sama-sama dapat memberikan efek negatif jika berkekurangan dan berkelebihan. Dengan porsi dan kondisi yang tepat, kritik juga dapat memberikan energi tertentu. Apa yang dilakukan Terence Fletcher terhadap Andrew Neiman dapat menjadi contoh.

Setiap orang memiliki pandangan masing-masing, dan tentu saja caranya pun beragam. Bisa jadi kontras dengan yang biasa kita lakukan. Dengan melihat karya orang lain dari sudut pandang sendiri bukan saja menjadikan kita egois, tapi juga menumpulkan pikiran untuk merangsang pertanyaan-pertanyaan. Terjawab atau tidak, itu bukan yang terpenting, karena klimaksnya ada pada pertanyaan yang terlontar.

 

Suryo Brahmantyo

Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook

© Andryaniade
Interview, Sharing, Street photography,

Street Photography Sharing : Andryaniade

Perkenalkan nama saya ade Andryani. Saya tinggal di Jakarta. Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya di dunia street photography yang sudah saya geluti selama ini.

Kenapa Street Photography?

Banyak yang bertanya pada saya “loh mbak ade kan cewek kok memilih street photography kan pada umumnya kalo cewek tuh suka sama genre foto yang syarat akan keindahan seperti landscape atau modeling, apa sih mbak alasanya kenapa mbk ade memilih street photography sebagai hobi yang digeluti mbk ade saat ini ?” hehe. mungkin itu pertanyaan yang sering terlontar dari teman-teman saya. langsung aja ya biar tidak terlalu panjang pembahasanya kasihan masdin yang ngetik hahaha. oke “kenapa street photography?” . Alasanya karena pada street photography saya menemukan kesenangan dalam mengabadikan moment-moment di sekitar saya . Dulu saya mulai mengabadikan moment di jalanan dengan menggunakan kamera Smartphone. Mungkin itu alasan kedua saya kenapa memilih street photography karena cenderung lebih simple dalam hal kamera bahkan ada juga teman-teman saya yang mengabadikan moment dengan kamera analog.

Kemudian Alasan yang lain , Street Photography bisa dikatakan unik. Di tempat yang sama di waktu yang berbeda kita akan menemukan moment-moment yang berbeda yang kebetulan terjadi. Dalam hal ini tentu saja keadaan maupun subject yang kita abadikan pastilah jujur karena kita tidak men-direct  atau merekayasa moment dan subject kita yang apa adanya yang kita abadikan secara spontan.

Namun tidak jarang pula kita bisa menebak hal apa yang akan terjadi dalam kejadian yang biasa terjadi sehari-hari, Sehingga kita bisa merasakan kapan kita akan menekan tombol shutter dan memaksimalkan foto yang akan kita abadikan.

Dalam Street Photography hal lain yang saya sukai yaitu kita bisa memotret di manapun di ruang publik, Seperti di jembatan umum, saat kita berada di warung ataupun ketika sedang di mall dsb.  hal inilah yang paling menarik bagi saya.

Bagaimana pendekatan dalam Street Photography?

 

Dulu saat saya masih menggunakan kamera smartphone, Saya lebih sering mengambil foto dengan cara candid. Hal ini dikarenakan ukuran smartphone yang kecil di banding kamera DSLR maupun mirrorless sehingga tidak begitu menarik perhatian subject di sekitar kita sehingga saya lebih mudah menyesuaikan saat pengambilan foto.

Namun setelah saya mulai menggunakan kamera DSLR, disitulah saya baru merasakan betapa usahnya dalam pendekatan tersebut. Masih malu-malu dan terkesan mencuri foto , Itulah yang saya rasakan di awal saya mulai menggeluti street photography. Dan setelah saya meyakinkan diri dan mendapatkan motivasi dari teman-teman saya , Saya berusaha untu lebih berani dalam mengambil foto , berusaha berfikir positif dan tersenyum adalah kunci terpenting yang menjadi modal awal agar subject tidak merasa risih ataupun terganggu. Bahkan jika perlu ajaklah subject tersebut berinteraksi agar foto kita lebih hidup dan bercerita.

Nah berikut ini akan saya perlihatkan beberapa karya saya ,

© Andryaniade

© Andryaniade

Foto di atas foto yang saya ambil secara spontan / Decisive moment.

© Andryaniade

© Andryaniade

Foto di atas foto dengan komposisi layering yang saya ambil dengan mengamati aktifitas mereka terlebih dahulu ,

© Andryaniade

© Andryaniade

Foto di atas foto dengan low angle atau sering dikenal dengan istilah congkel.

© Andryaniade

© Andryaniade

Foto di atas contoh foto dengan High Angle atau sudut pengambilan dari atas

Sebenarnya ada banyak sekali teknik dan komposisi dalam street photography tapi saya tidak akan memaparkan secara rinci karena nanti artikel ini jadi terlalu panjang mungkin beberapa foto saja.

Prestasi atau penghargaan apa saja yang sudah pernah di raih selama menggeluti dunia Street Photography?

hahaha Sebenarnya saya sedikit sungkan jika membahas masalah ini tapi baiklah saya akan sedikit ceritakan. Untuk penghargaan waktu itu pernah mengikuti Lomba Foto di ajang JSPI (Jambore Street Photography Indonesia) 2016 yang waktu itu diselenggarakan di bandung dan kebetulan saya mendapat juara ke 3. Pernah juga menjadi nominasi di ajang World Street Photography 2016 dan 2017. Mungkin itu yang saya ingat hahaha.

Adakah tips untuk teman-teman yang baru memulai menggeluti Street Photography?

Untuk tips buat temen-temen yang mau menggeluti atau baru mulai menggeluti street photography , Mungkin sering-seringlah buat motret di ruang publik, Jelilah melihat situasi kalau istilah anak jaman sekarang gercep melihat keadaan hahaha. Dan cobalah memotret di satu tempat setiap hari selama seminggu, biasanya efektif untuk melihat perkembangan foto kita, Misal motret gang di deket rumah , Foto hari pertama without people / tanpa subject, Besoknya lagi Multiple subject dst. intinya observasilah, Nanti jika gagal atau kurang memuaskan hasilnya , Cobalah lagi dan jangan menyerah. hehe.

 

Akun instagram mbak ade?

Baik sebagai penutup saya share akun instagram saya mungkin bagi temen-temen yang mau bertanya atau bersilaturahmi dengan saya bisa langsung DM saja akun IG saya yaitu @andryaniade  

Mungkin sekian sharing dari saya terimkasih banyak buat temen-temen yang mau membaca sharing saya ini semoga bermanfaat , Salam Street Photography Indonesia!

 

Instagram has returned invalid data.
error: Content is protected !!